Mata Kabur, Kurang Tidur

Pulang dari acara IDI di Masohi kemarin. Otak sudah di-refresh dengan kegawatdaruratan Mata, Penyakit dalam, Bedah dan Anak. , Perut juga udah di kasih deversifikasi pangan. Status mental ada perbaikan walau belum maksimal.
*Lumayan...

Beberapa jam sesampai di Arara dapet laporan kalo Ny Klenyem ( bukan nama sebenernya ), umur lebih dari 35 tahun, mau melahirkan. Sekarang lagi ditangani dukun bayi. Jiangkrik..., padahal jauh sebelumnya sudah diberi penjelasan untuk melahirkan di RS saja. Karena ada riwayat persalinan sebelumnya dengan caesar. Bisa partus normal, tapi beresiko. Nah untuk meminimalisir resiko dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk harusnya partus di sarana kesehatan yang komplit. Takutnya dalam proses persalinan ada kendala, ngerujuknya susah. Tau sendiri sini kliniknya ditengah hutan, dokternya cuma dua unit, saya dan mamanya Najwa, peralatan terbatas, transportasi susah. RS terdekat saja 4 jam  dan belum ada dokter ahli kandungan.. 
*Jamput kon iki...  ndoktere ae rak wani, iki lak malah nak ndukon... yok opo rek... 

Sore mo maghrib, Bu Klenyem dah di atas tandu digotong rame-rame ke klinik. Dukunnya angkat tangan, persalinannya macet. *Nah looo....  Segera dilakukan pemeriksaan di klinik. Hasilnya pembukan sudah lengkap, ketubannya sudah pecah 10 jam sebelumnya,  tapi HIS atau kontraksi otot rahimnya lemah, dan kondisi bu Klenyemnya sendiri sudah lemah.. Sesuai SOP dan protap Klenyem  harus di Rujuk. Tapi untuk merujuk, jelas gak mungkin, karena RS terdekat yang ada dokter kandungannya sekitar 8 jam perjalanan laut dan darat. Bisa-bisa koit dijalan. Didorong pake obat pacu persalinan ( uterotonika ) gak mungkin, Dinding rahimnya bisa jebol karena pernah di sectio caesar. Di vacum forceps jelas gak mungkin.. karena emang gak ada alatnya... 
*Apa balikin lagi ke dukun bayinya saja ya ???

Bener kata para dosen-dosenku dulu, ujian paling susah adalah saat berhadapan langsung dengan pasien. Karena tak jarang "soal" yang dihadapi gak ada di text book. Jadi untuk dapetin jawabanya harus improvisasi, tetapi masih dapat dipertanggung jawabkan sesuai kaidah kelimuan.

Sudah jelas sekali kalo sesuai SOP dan Protap-nya, ilmu yang didapet selama makan bangku kuliah dulu dapet pasien kaya gini penanganannya seharusnya di rujuk RS yang sarana medisnya komplit. Tapi kondisi lapangan jelas berkata lain. Dengan modal berjuta kenekatan dan seupil pengetahuan, persalinan harus tetap dilanjutkan. Nelpon ke kelega yang baru sekolah Spesialisasi juga kulakukan. Lagi-lagi advice yang diberikan hanya bisa berjalan di sarana pengobatan yang langkap dan standar.  Gakpapa deh, Setidaknya bisa menenangkan pikiran, kalo sampe Ny Klenyem dan bayinya tidak tertolong bukan karena kurangnya usaha tapi memang sarananya dibawah standar.

Eksekusi dijalankan.. Perbaikan kondisi pasien, mengedukasi mengejan yang benar, dibantu dengan uterotonika alami dan dengan sedikit memperlebar jalan lahir (episiotomi). Dengan kuasa Allah,  Alhamdulillah Ny Kleyem akhirnya bisa dibantu persalinannya dengan lancar walau harus gambling... Bayi laki-laki, lahir dengan berat 3500gram, panjang 51cm lahir dengan normal. Tapi kondisi APGAR score si bayi kurang bagus. Resusitasi untuk bayi dilakukan semaksimal mungkin. Tapi lagi-lagi kendala peralatan. Oksigen dalam tabung gak tersedia. Adanya hanya oksigen no charge for use... hampir 2 jam diresusitasi suction dan genjot pake ambu bag. APGAR skore blom membaik, naiknya cuma 2 poin. Lepas resusitasi anjlok lagi. Daripada terlalu beresiko, akhirnya bayi tetep harus di rujuk juga....

Huuuhhh... Kerja mengejar nyawa... Mata kabur, kurang tidur... dikerjain pasien...
Tetangga-tetangga taruhan bola... kok ini malah taruhan nyawa.... Wong gemblung...!!!



IDI Malteng Punya Gawe


Mau ngeposting dengan tema yang rada ilmiah dikit ah. Ini kali pertamanya saya ngeposting kegiatan IDI Maluku tengah, yaitu acaranya Seminar dan Pengobatan Masal dalam rangka Hari Bakti Dokter Indonesia. Karena Hari bakti Dokter, jadi panetiyanya ya para dokter semua, baik dokter umum, dokter gigi maupun dokter spesialis. Rencananya kegiatan diadain tanggal 25-26 Mei tapi terpaksa harus diundur ke 8-9 Juni karena situasi politik karena Pilkabe Pilkada.

H-1 Sebelum Acara, Saya meluncur ke Masohi. Lagi-lagi karena jarak yang relatip jauh yang mengharuskan datang sebelum waktunya.  Pake apalagi kalo nggak motor. Alone Rider. Sendirian tur indik-indik. Sampai di Masohi istirahat sebentar di penginapan dan langsung meluncur ke venue di New Lelemuku Hotel. Survey sekalian untuk bantuin para panitia. Ngetik daftar hadir, pasang backdrop, nyiapin proyektor dll. Maklum tampang mirip pembantu..  Dari dulu kalo ada kegiatan paling jadi  tukang angkat junjung, padahal body minim proteindan miskin lemak. Mentok-mentoknya paling jadi sie Perlengkapan. Emang sih acara nggak lengkap tanpa kehadiran sie perlengkapan… *menghibur diri. 

Hari H kegiatannya seminar ilmiah tentang  kegawat daruratan medis. Mulai dari Interna, Bedah, Mata dan Anak.  Pembicaranya para dokter spesialis yang bertugas di Masohi. Nggak mengimport dari luar. Sebenernya cukup menarik dan bermanfaat banget, nge-refresh ilmu. Tapi sayang waktu yang terbatas mengharuskan seminar ini harus interrupted sebelum completed. Jam 12 an seminar bubar, para peserta yang moslem yang berkelamin laki-laki langsung menuju mesjid untuk sholat Jumat. Yang lainnya siap-siap karena jam 2 siang para dokter harus pindah lokasi acara ke Sawai. Perjalanan Masohi-Sawai bisa memakan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan.

Selepas sholat Jumat, para rombongan dokter meluncur ke Sawai. Transportasi yang disiapin panitia ada truk, Ambulance dan mobil carteran. Dari semua peserta hanya saya yang naek motor. Kurang kerjaan emang. Gakpapa deh kurang kerjaan, yang penting selesai Acara di Sawai bisa langsung kabur ke Arara, nggak perlu balik lagi ke Masohi.

Malam harinya di Sawai, dipenginapan diatas laut para anggota IDI Kab Maluku Tengah ini mengadakan Raker perencanakan kegiatan, biar IDInya nggak vakum, sekaligus pengakraban antar dokter. Maklum kondisi geografis yang sangat berjauhan mengakibatkan kurang kenalnya para teman sejawat ini. Gimana bisa kenal kalo jaraknya ratusan kilometer, ketemu juga gak pernah. Palingan tahu nama-namanya saja. Tapi warna, bentuk, dan baunya belum pernah ngerti. Apalagi rasanya… * emang permen???

Pagi hari di hari kedua. Sebelum pengobatan masal dilaksanakan, temen-temen ada yang nyempetin snorkling dan berenang.  Kebetulan cuaca cerah dan visibility lumayan bagus untuk bisa ngelihat terumbu karang dan ikan-ikan warna-warni yang berenang. Sengaja memilih Sawai sebagai lokasi pengobatan masal karena desa ini emang belum ada puskesmas dan dokternya. Dan sangat jauh untuk mendapatkan akses kesehatan. Sehingga pengobatan masal ini diharapkan bisa sangat bermanfaat. Selain itu, pemandangannya bagus dan lautnya masih yahuud sehingga bisa sekaligus untuk rekreasi para dokter. *Sekali dayung dua tiga bini terlampaui.

Acara pengobatan dilaksanakan di titik nol kilometer negeri Sawai yaitu di Balai Desa . Masyarakat antusias sekali. Laki-laki, perempuan,  anak-anak hingga kakek, nenek semuanya ada.  Sebelum acara pengobatan di mulai, Bosnya IDI Malteng dr Saleh Tualeka SpM dan Pemimpin negeri Sawai memberikan sedikit sambutan dan pengarahan. Selesai pengarahan, Acara pengobatan masal dimulai. Tiga meja Pemeriksaan dokter umum, dua dokter gigi dan satu dokter ahli mata yang telah disiapkan panitia . Semuanya full terus. Tanpa jeda. dan Lariss maniss.... Setelah sekitaran 3 jam pasien habis. Tapi ada beberapa pasien yang nggak bisa tertangani dengan tuntas dikarenakan keterbatasan obat. Jadi pasien-pasien yang blum klimaks itu kami arahkan untuk harus  tetep ke rumah sakit. Total kunjungan pasien pada Baksos Hari Bakti IDI ini ada sekitar 200an orang.  Mayan pegel juga yang nulis dan giling obat...

Selesai Acara pengobatan, teman-temen langsung  balik ke penginapan, untuk persiapan perjalanan ke Masohi. Saya langsung meluncur ke TKP di Arara untuk mengikuti pengobatan masal tiap hari....
See u next time broo... Sist....




Tahu Tempe Kena PHK

Beberapa hari lalu terpaksa harus menghilang dari internyet. Bukan karena sibuk atau kerjaan yang numpuk. Tapi emang fasilitas internet satelit milik management perusahaan lama yang biasa karyawan pake (termasuk saya) telah diangkut. Tidak hanya Internet, semua aset-aset dilego. Peralihan menejemen perusahaan memang banyak memberikan dampak. Menejemen baru ya kebijakan baru. Departemen yang jumlah personilnya dianggep terlalu over, dipangkas. Kepala departemen yang dianggap kinerja kurang yahuud dan terlalu yahuud langsung dirumahkan. Pokoknya kerja harus sesuai kaplingnya.
Di site yang jauh dari mana-mana, pengurangan karyawan ternyata dampaknya cukup terasa. Tetangga mess yang kena PHK harus pulang. Alhasil lokasi yang dulunya sepi kini jadi sepi banged. Bagi saya sepi mungkin nggak begitu masalah asal anak istri masih serumah.

Dampak peralihan management yang paling terasa bagi saya adalah menghilangnya duet tahu-tempe dari meja makan. Bosen juga kalo tiap hari lauknya ikan, telor, ikan, telor . Memang secara Angka Kecukupan Gizi, antara telur, ikan dan tahu-tempe nggak beda-beda jauh. Tapi selera makan tuh tidaklah sebatas angka dan skala. Dikala lambung sudah kosong berjam-jam dan gerak peristaltik sudah sampe berbunyi, makan pake nasi sambel saja sudah sangat nikmat.. dengan catatan Nasi sambelnya feat Bebek gorengnya pak Slamet lho ya.... * Ya iyalah.... apa lagi kalo gratiss...

Setelah dilakukan investigasi, ternyata pangkal permasalahan menghilangnya duo Tahu-tempe dari pasaran adalah terputusnya rantai distribusi kedelai. Suplay kedelelai yang biasa dibawa karyawan kalo pulang mudik sabtu sore dari lokasi transmigran terputus. Penyebabnya, si karyawan tersebut kena PHK. * waduh...

Bagi masyarakat asli sini, nggak ada Tahu tempe gak masalah. Asalkan ikan ada dimeja. Sedangkan bagi karyawan yang lidahnya sudah terpapar radiasi sinar tempe-tahu sejak usia dini, kehilangan tempe-tahu bisa berakibat unstable mental a.k.a galau. Sungguh ironis, kerja diperusahaan asing yang bisa dikatakan gajinya diatas rata-rata, mau makan tempe saja harus ngempet 6 bulan...