Spaghetti dan Steak Kakap

Libur hari Raya nyepi yang tepat jatuh pada kamis Tanggal 26 Maret 2008 ternyata nggak bikin hidupku yang saat ini di "tengah Hutan" terasa kesepian.


Para chef bergaya

Lembar pertama dimulai saat aku terbangun dari mimpi panjangku, ambil Air wudhu, Sholat Subuh dan menikmati secangkir teh panas. Sebentar saja... akhirnya lembar pertama aku tutup kembali dan tarik selimut. Tidur lagi... Maklum hari libur. Untuk sementara bisa rehat sejenak.


Halaman kedua, Jam sudah menujukkan pukul 9 lewat, lumayan juga tidur pagiku... :) bisa bermalas-malasan sebentar, ngolet sana ngolet sini... berbagai gaya posisi ku jalani dengan ikhlas sepenuh hati. selepas mandi, temen-temen yang senasib di "perasingan" pada berdatangan. memang sengaja kami sudah janjian untuk bikin Acara masak-memasak. Bumbu dan Bahan memang sudah kami siapkan dari kemarin. Mulai udang putih, Kakap putih (kalo kagak salah orang maluku bilang ikan Somasi), Margarin, Bawang Bombay,  dll. Kita berencana masak steak Kakap + Spaghetti dengan minum Lemon squash. Kita mulai beraksi... Rebus sepageti (makanan italiano dengan penulisan logat njowo), Kakap yang telah di fillet bumbui, Bukin Saus sepagetina, goreng kakap dengan margarin.. komplit... hidangkan... yahud juragaan.

Lumayan lah untuk perbaikan status gizi dan penghilang stress, dan cukup untuk mengisi hari libur.


Ada SMS Gratis?









Lagi blogwalking.. eh tau-tau nemu sebuah link yang menyebutkan kalo bisa SMS gratis. Asik juga.. perlu dicoba... tapi berhunbung beta sekarang lagi di Very-very remote area yah terpaksa harus nahan dulu.
Nih aku kasih alamatnya... klik disini... Tolong di report yah kalo dah nggak bisa lagi... Tengkyu...

Things to Try Before Die

Wah kelihatannya extreme sekali, namun ini layak dicoba, apalagi aku telah berada di Maluku. Dari referensi beberapa Teman, tetangga, Pasien, Tukang ojek, Kuli pelabuhan, Sopir angkot dan beberapa buku dan siaran Televisi ada beberapa 'hal' yang layak di coba sebelum aku meninggalkan Maluku. Apa saja itu??
  • Makan Embal & Kacang botol (udah)
  • Sagu lempeng, Papeda dan Swami
  • Jalan-jalan ke Pulau Banda
  • Diving di lauhalat
  • Berenang di Pasir panjang.
  • Naik gunung Binaya.
  • Tracking di TN Manusela dan taman Burung Masihulan
Moga saja sebelum Pengabdian di Maluku kelar, aku dah pernah nyobain...





Tak ada Gips, Kasapun Jadi.

Kemarin malam Aku bertemu seseorang yang pernah jadi pasienku, yang membuatku ingat kejadian  sekitar 1 bulan yang lalu..

hari itu Koneksi internetku cukup lelet bin lemot, Koneksiku putus-putus... dan ternyata harus bener-bener putus karena ada seorang Satpam yang Piket Malam menghampiriku...
"Malam Pak dokter! Maaf mengganggu. Saya di Pos dapat informasi, ada kecelakaan di Tikungan Jembatan Pompa. Sekarang dalam perjalanan ke klinik."

"Ohya Saya ke klinik"  Berbegaslah saya mengemasi Laptop dan meluncur ke Klinik.
Di Klinik sudah ada puluhan orang. Saya masuk Ruangan Tindakan di dalamnya telah ada seorang korban kecelakaan, laki-laki usia sekiatr 40an. Pasien masih sadar, Setelah di Anamnesis ternyata pasien tersebut korban  yang ditabrak oleh pengendara sepedamotor yang Mabuk. Dari Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik mengarahkan saya untuk mendiagnosis dengan Closed Fracture 1/3 medial Clavicula Dextra. Dengan pertimbangan alignment secara perabaan dan kira-kira (hal ini tidak disarankan) cukup baik,dan dengan Peralatan seadanya aku mencoba memberikan therapi tindakan.
Aku teringat kejadian beberapa hari sebelum aku diambil Sumpah sebagai Dokter. Kejadian yang hampir sama. Orangtua tercintaku, Bapakku, ditabrak juga dengan sepedamotor, dan patah Clavicula juga. karena dengan berbagai alasan Bapak tidak mau dioperasi hanya perawatan konservasi dengan  gips dengan model ransel. Yah inilah Learning by Undergoing, Meskipun mengalaminya tidak langsung, Tapi berhubung yang terkena ortu sendiri jadi serasa mengalami langsung. 
Ilmu itu aku terapkan juga ke Pasien tersebut, Sesuai pepatah Tak ada gips, Kasapun jadi.  Pasien dengan posisi berdiri, bertolak pinggang kemudian dengan dibebat kasa, dililitkan model angka delapan, dengan bersilangan di punggung. Dengan dililitkan berulang-ulang akan berfungsi juga sebagai fiksasi dari Clavicula tersebut.
"Bagaimana Pak?" Tanyaku setelah selesai membebatnya.

"Mendingan Pak Dok, Sakitnya agak berkurang"
Memang benar, dengan memfiksasi akan mengurangi nyeri akibat pergerakan dari tulang yang patah tersebut. Aku jelaskan ke pasien, Bebat ini gak usah dilepas, jangan diurut. kalo penyembuhannya baik kurang lebih 3-6 minggu akan membentuk penulangan baru dan menyambung lagi.

Alhamdulillah Semua atas ijin Allah. Aku bertemu pasien yang dulu  1bulan yang lalu sempet aku beri perawatan karena patah tulangnya. Tadi malam dia sudah terlihat beraktivitas biasa. sudah bisa bekerja kembali.



Berganti Distro

Sehari kemarin saya download salah satu distro turunan Ubuntu, Linux Mint. Ya.. Linux mint. Saya Mulai menggunakan Linux baru sekitar 1 tahun, itupun sangat-sangat terbatas. itupun sempat vakum beberapa waktu karena sering kali ada masalah dalam penggunaan linux, terutama masalah driver dari wireless card. Aku berkali-kali gonta-ganti distro Mulai dari PCLinuxOS, openSUSE 9, Pazia (Bundle dari Laptop), Ubuntu, Backtrack 3 dll. Dari berbagai distro yang pernah saya coba yang paling pas di Hati adalah ubuntu. Tapi kendalanya dari beberapa versi ubuntu, saya belum bisa berhasil instal driver wireless card baik melalui ndiswrapper maupun madwifi. Alhasil  selama aku pake ubuntu wireless gak bisa terpakai..
Suatu ketika Saya pergi ke Ambon, di ibukota proponsi Maluku itu saya mendapatkan majalah di sebuah lapak. Majalah InfoLinux, dan kebetulan ada DVD distronya yaitu Mandriva 2009. setelah coba saya instal. Dan hasilnya ... Atheroz gue dapet dikenali langsung tanpa utak atik sana sini. Akhirnya semangat linux-ku kembali berkobar.

Setelah beberapa hari menggunakan Mandriva, Akhirnya kemabli lagi ada masalah... tapi kali ini masalah bathin... Hati kecil kurang berjodoh dengan mandriva, pengennya balik lagi ke Ubuntu... Akhirnya cari-cari, Dapetlah salah satu Distro turunan Ubuntu yang telah di karuniai ndiswrapper, yaitu.. Linux Mint. Horee.. gak perlu repot-repot lagi menginstal ndiswrapper.
Aku akhirnya download dari official site langsung di Linux mint tapi berhubung koneksiku menggunakan Satelit jadi terasa lambat sekali, akhirnya aku mencari mirror lokal dan dapatlah dari Repositori milik UGM.
Aku memilih Linux Mint 5 dengan Codename Elyssa karena turunan dari Ubuntu 8.04 LTS yang konon katanya support dari ubuntu sampai dengan April 2011. dan dari beberapa rewiev menyebutkan kalo Ubuntu 8.04 tak kalah dengan versi terbaru 8.10. Versi terbarunya sebenarnya Linuxmint 6 turunan dari Ubuntu 8.10, tapi konon katanya.. search dari Google di ubuntu 8.10 banyak review yang mengungkapkan terlalu banyak trouble. jadi aku tetap memilih Elyssa dari pada Fellicia :P
oh ya Linux mint juga tersedia dalam desktop GNOME, KDE, Fluxbox maupun XFCE. Jadi siip banged deh buat para newbie seperti saya ini.. banyak tampilan pilihan desktop . Go to Linux!!

Jalan-Jalan di Kei Besar

2-8 Maret 2009, Aku jalan-jalan di kepulauan Kei Besar Kab Maluku Tenggara. Sebenarnya kurang tepat kalo "jalan-jalan", karena aku ada urusan yang relatif penting juga. Aku berangkat dari Ambon dengan Pesawat ke Tual/Langgur. di Tual aku menginap semalam di Hotel yang cukup ternama di kota kecil itu. Pagi harinya aku sudah di jemput di hotel oleh dua Wanita cantik, keturunan Cina dan kebetulan dokter di Kep Kei Besar. Dr Lulu dan Dr Widi. Aku di jemput dua dokter ini atas rekomendasi istriku.

Pagi Aku dah di pelabuhan Motor Watdek-Tual. Dari Watdek kami berlayar ke Elat. kurang lebih 1 jam. Speed kapasitas 40an penumpang dengan mesin Rata-rata 4x40Pk melaju membawaku ke Elat. Sebuah desa di Pulau Kei Besar. Saat ini, Satu-satunya trasportasi dari Tual ke Kep. Kei Besar hanyalah lewat laut.

Saat sesampai di Kei Besar aku langsung cari Ojek untuk ke rumah salah seorang warga Wakol yang "menampung" istri dan anakku saat bertugas di Puskesmas Elat. yah dia adalah Hj Hasnina. Wanita kelahiran 1983, yang cukup di kenal di masyarakat desa Wakol.

Hari-hari di Wakol-Elat Aku lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah saja. Palingan jalan-jalan ke kampung saja, untuk melihat pemandangan keseharian di kampung. Secara geografis desa-desa di kep Kei Besar mayoritas berada di pesisir pantai. jadi tak heran jika makanan favorit is Ikan dan pemandangan dimana-mana Pantai dan Pantai.


Mobil & Puskesmas Elat

Aku, Dewi istriku dan Najwa putriku berkesampatan jalan-jalan. Saat jam kerja Puskesmas Elat tempat istriku bertugas dah kelar, Aku sempet jalan-jalan ke Bombay. Ya.. nama Desanya Bombay.. mirip di India Saja. Dari Wakol kurang lebih 20 menit naik mobil umum. Jalan antara Wakol Bombay, Sangatlah parah menurutku. Kami melewati 2 jembatan yang hancur yang konon katanya karena terkikis oleh derasnya hujan. Antara desa dengan desa terpisah hutan, dan pantai. Wah sayang gak sempat aku abadikan gambarnya.



Lingkungan sekitar Puskesmas Bombay

Kami jalan-jalan di Bombay untuk maen saja ke Rumah dinas Salah satu Teman Sejawat. Dr Widi. Dia merupakan dokter satu-satunya di Puskesmas Bombay. Waw.. Rumah dinas dan Puskesmas bener-bener di garis pantai. Terlihat sangat jelas, ranting-ranting pohon yang tersapu ombak terkumpul di belakang puskesmas.

Di Elat dan Bombay juga, Listrik hanya menyala 12 jam saja. saat malam hari sampai dengan pagi. Baru kali ini aku tinggal di pedalaman yang benar-benar infrastrukturnya masih minim. Tapi ini merupakan pengalaman yang bisa mengenalkanku lebih jauh bagaimana keadaan Indonesia.


Nongkrong di Bandara Pattimura

Di Bandara Patimura Ambon. Jadwal penerbanganku sebenernya jam 3 sore, tapi aku dateng ke bandara jam 12 siang. Aku datang  1 jam lebih awal dari jadwal Check-in. Sampai-sampai saat aku ke loket check-in petugasnya bilang "Tunggu dulu... loketnya blom buka pak". Kenapa saya dateng lebih awal ? yaitu karena ada dua Alasan yang aku rasa cukup kuat
  1. Aku melakukan pembelian tiket secara online di Lion Air , jadi aku gak bawa bentuk fisik tiket, khawatirnya mesti urus sana-sini lagi. eh ternyata gak. Lancar! cuma bawa print out dari pembayaran Tiket. kasih ke Bagian check-in tiket, Udah beres. Enak! gak perlu repot. Poin Plus untuk Lion.
  2. Hotel tempatku menginap membatasi jam check-out jam 12.00. Jadi kalo lewat dianggapnya lanjut menginap. wehh.. Dari pada molor sejam nambah bayar semalam.. lebih baik buruan kabur ke bandara.
Setelah Semua urusan beres. Baik itu Urusan tiket, Urusan Akherat maupun Urusan Gizi.. aku masuk ke ruang tunggu. Disana sudah banyak calon-calon penumpang yang lagi nyante nunggu pemberangkatan.
Kurang lebih jam 3, Ada pengumuman Kalo pesawat Lion dari Makasar mengalami keterlambatan kedatangan ke Ambon. Selepas pengumuman ada bapak-bapak kira-kira umur 50an, dengan gaya dan pakaian PNS di sebelahku nyelutuk...
"Wah Lion terlambat, Nyari sayap dulu itu... Mungkin pinjem Garuda apa Merpati dulu..."
Aku disebelahnya pengen tertawa, tapi berusaha aku tahan.. Jaim dikit. Aku jadi tergelitik, Lucu juga ucapan bapak tadi.. Jangan-jangan Lion Marger dengan Wing dengan alasan Lion biar gak susah lagi nyari sayap... hehehe....
Meskipun Pengumuman tersebut tentang keterlambatan pesawat dari Makasar, tetap saja berdampak padaku juga.  Penerbanganku jadi mundur juga dari jadwal. Sebenernya Pesawat Wing yang akan membawaku ke Langgur sudah siap sejak tadi. Karena Adanya keterlambatan Pesawat dari Makasar, terpaksa Pesawat yang ke Langgur tertunda juga, karena tentunya ada penumpang yang connecting dari pesawat makasar-Ambon dengan Ambon-Langgur.

Dompetku Gak Jadi Hilang

Jam terus berputar, Saat itu jam 11,10 WIT.. aku harus Check out dari Hotel jam 12.00WIT. Packing dah kelar, barang -barang sebagian masuk kardus dan sebagian masuk tas Backpack kesayanganku.
"Tiket Pesawat dah Siap, Barang-barang ga ada yang tertinggal... Kacamata, HP, Charger udah... dompet... lhoh mana dompetku...??"
Aku cari disaku celana , gak ada. Lemari gak ada, Kasur nihil, kolong tempat tidur nihil juga... aku mulai bingung. Adrenalin mulai meningkat, aku bongkar lagi Backpackku. Pakaian satu persatu aku keluarkan, Barang-barang di dalam tas aku keluarkan semua. Kosong... tapi Dompet itemku belum kelihatan juga. Aku mulai stress... Wah kacau nih... detik-detik mo berangkat malah ada tragedi. Aku menatap kardus yang sudah aku packing rapat, tapi gak begitu rapi. Jangan-jangan dompetku masuk di dalam kardus, bathinku.. Wah mesti bongkar lagi.. Padahal waktu sudah semakin sempit. Aku coba ingat-ingat kapan yah terakhir aku keluarin dompet..?? Potongan-potongan "film" yang tersimpan di otakku aku coba rangkai kembali dan aku mencoba memutar ulang...

(2 jam Sebelumnya)
Aku mulai bergerak melengkapi kekurangan-kekurangan yang akan di bawa ke Tual. Pertama, ke apotek Beli injeksi, jalan kaki nyusuri trotoar menuju ke Amplas, cari roti. sebelum cari roti aku makan dulu di gerai cepat saji produk Amrik. Selasai makan, aku Beli Roti, kemudian meluncur ke pasar buah beli jeruk 2 kilo saja. berhubung bawaan lumayan pating grendel.. akhirnya aku putuskan naek becak untuk balik ke penginapan.
Didalam becak aku berpikir. Buah, Kue, dan Barang yang sudah dibeli kemarin di pack dalam kardus. berarti aku harus Beli Rafia...!! Turun dari becak, AKu mampir beli Rafia. kemudian balik ke hotel untuk packing... Selesai packing... siap-siap dan menyadari dompet telah lenyap...

Akhirnya kumpulan kejadian yang berhubungan dengan "dompet"... Aku paling ingat mengeluarkan dompet Saat beli buah. Akhirnya aku start dari saat beli buah.
  • Beli Buah aku ingat sekali keluarkan dompet.. kemudian Naik Becak...
  • Bayar becak, Aku (agak ragu) mengeluarkan dompet...
  • Beli rafia... nggak ingat sama sekali mengelurkan dompet apa tidak..
  • Apalagi didalam Penginapan.. Gak ingat sama sekali.
Dari kronologis kejadian tersebut, aku berpikir... wah kemungkinan lenyapnya dompet, probabilitasnya
  1. Ketinggalan dibecak
  2. Jatuh antara Turun dari becak s/d Warung yang jual Rafia
  3. Jatuh antara warung jual rafia s/d kamar hotel.
  4. Didalam kamar hotel.

Akhirnya aku memutusakan untuk mencari di luar kamar hotel. dengan menyusuri ulang jalan yang aku lewati mulai dari kamar hotel, keluar menyusuri lorong di hotel. Aku berjalan sambil tetap waspada menatap lantai. Sampai di luar hotel aku masih belum menemukan si Black Made in Papua ku.
Perasaanku semakin gak enak, Tapi aku tetep berusaha mencari.. aku berjalan ke luar hotel menuju ke sebuah warung tempatku beli tali Rafia tadi. Terik matahari menyengat, tapi tak kuhiraukan. aku berusaha tetap mencari. Trotoar aku susuri, nihil. kira-kira 5 menit berjalan, sampailah aku ke warung kecil tempatku membeli rafia.
Aduh,... Penjualnya sudah lain orang. Tadi sewaktu aku beli rafia, yang melayani seorang kakek-kakek, sedangkan sekarang yang di warung itu perempuan sekitar 20an tahun. Aku langsung menghampiri perempuan penjaga warung itu, kemudian kujelaskan.
" Mbak, Tadi saya beli Rafia disini.. Sampe di hotel Dompet saya gak ada...? apa ada ketinggalan dompet disini??"
Aku bertanya sambil mata jelalatan tetap mencari. Akhirnya mataku tertuju ke sebuah dompet hitam yang ditaruuh di tumpukan rokok di dalm warung itu.
"Oh.. itu dia"
" Iya, mas tadi bapak saya yang ada jual, dompet mas ketinggalan di sini, seng jatuh"
Akhirnya mbak-mbak tadi mengambilkan dompetku dan memnerikannya padaku. Alhamdulillah .... Aku buka surat-surat masih komplit, aku lihat letak-letak kartu ATM, SIM dan Surat-surat berubah tempat, tapi masih utuh.
"Maaf mas, tadi saya buka sama bapak, saya lihat surat-suratnya."
"Oh gakpapa mbak, terimakasih banget dah di selamatkan. Uangnya sih gak seberapa, tapi surat-suratnya ini.."
Aku mengambil lembaran uang yang ada di dompetku dan aku berikan ke mbak tadi sebagai rasa terimakasihku, dan penghargaan atas kejujurannya. Terimakasih mbak...